Viral di Medsos: Kasus Sodomi Anak di Indramayu Ungkap Kegagalan Sistem Pelaporan

BARA NEWS JABAR

- Redaksi

Selasa, 15 Juli 2025 - 07:44 WIB

50357 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indramayu | Kasus dugaan sodomi di Indramayu ini sangat memprihatinkan, terutama karena melibatkan anak di bawah umur baik sebagai korban maupun terduga pelaku. Kejadian terjadi pada November 2024, tetapi baru dilaporkan setelah viral di media sosial, menunjukkan keterlambatan pelaporan. Polres Indramayu sedang melakukan penyidikan dengan fokus pada pengumpulan bukti dan keterangan saksi. Proses hukum dilakukan sesuai prosedur, dengan mempertimbangkan sensitivitas kasus yang melibatkan anak-anak. Hasil pemeriksaan medis mengkonfirmasi luka serius pada korban, termasuk robekan yang mengindikasikan kekerasan seksual, menjadi bukti kuat untuk mendukung penyidikan.

Keterlambatan pelaporan menyulitkan proses penyidikan, menegaskan pentingnya respons cepat dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak. Ketidaktahuan pihak desa, termasuk Kepala Desa Samsul Maarif, menunjukkan kurangnya koordinasi dan sosialisasi mekanisme pelaporan di tingkat lokal. Kasus ini menyoroti kerentanan anak terhadap kekerasan seksual dan perlunya edukasi masyarakat tentang pelaporan serta perlindungan anak. Peran media sosial dalam mengungkap kasus ini menunjukkan dampaknya dalam mendorong tindakan, tetapi juga menimbulkan risiko penyebaran informasi yang tidak terkontrol.

Polres Indramayu, melalui Kanit PPA Ipda Ragil Zaini Firdaus, menegaskan komitmen untuk mengusut kasus ini secara tuntas demi keadilan bagi korban. Penanganan kasus yang melibatkan anak sebagai pelaku dan korban memerlukan kehati-hatian untuk memastikan proses hukum yang adil dan sesuai dengan perlindungan anak. Perlu ada program edukasi di tingkat desa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melaporkan kasus kekerasan seksual secepat mungkin. Sistem perlindungan anak harus diperkuat, termasuk pelatihan bagi aparat desa dan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda kekerasan seksual. Kerjasama antara pemerintah desa, kepolisian, dan lembaga perlindungan anak perlu ditingkatkan untuk memastikan penanganan kasus yang cepat dan tepat. (*)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berita Terkait

Pedagang Madu Asal Baduy Jadi Korban Begal di Jakarta, Uang dan Dagangan Raib
Ratusan Warga Sukaslamet Geruduk Kantor Desa, Desak Pemakzulan Kuwu Rajudin atas Dugaan Penggelapan Dana Desa
Pemuda di Tasikmalaya Nekat Cabuli Nenek 85 Tahun, Polisi Amankan Pelaku
SWI Kecam Keras Aksi Teror terhadap Wartawan Syahbudin Padank di Subulussalam
Satresnarkoba Polres Indramayu Ungkap 18 Kasus Narkoba, Amankan 21 Tersangka
Kurang dari 24 Jam, Polisi Berhasil Menangkap Pembunuh Lansia di Subang
Polda Jabar Ungkap 257 Kasus Narkotika Sepanjang September 2025
Jurnalis Ambarita Dikeroyok saat Liputan di Bekasi, HP Dirampas dan Data Liputan Hilang

Berita Terkait

Selasa, 25 November 2025 - 16:47 WIB

Wisuda XXII USB YPKP: Luluskan 921 Wisudawan di Era Digital

Senin, 24 November 2025 - 16:48 WIB

Kota Bandung Siap Jadi Tuan Rumah Konferensi PWI Jawa Barat

Minggu, 23 November 2025 - 17:43 WIB

Masjid Raya Bandung Bakal Jadi Tempat Gelaran Seni Budaya Religi

Sabtu, 22 November 2025 - 17:42 WIB

Wisuda 105 Siswa Sekolah Lansia Bahagia Antapani, Farhan: Pemberdayaan Lansia adalah Masa Depan Kota

Kamis, 20 November 2025 - 18:33 WIB

Kota Bandung Dukung Kolaborasi Tekstil RI–Australia Dorong Konsep “Designed in Australia, Crafted in Indonesia”

Rabu, 19 November 2025 - 07:07 WIB

Forkopimda Cup 2025 Kembali Bergulir, Momentum Satukan Instansi dan Jawab Tantangan Kota

Selasa, 18 November 2025 - 07:06 WIB

Pemkot Bandung Ajak Warga Berkolaborasi Wujudkan Kota “Zero New Stunting”

Selasa, 18 November 2025 - 06:52 WIB

Kurnia Solihat: Perizinan Harus Semakin Sederhana, Pasti, dan Memenuhi Kebutuhan Publik

Berita Terbaru