Jakarta — Seorang warga Baduy, Banten, bernama Repan, menjadi korban tindak kejahatan saat berjualan madu dan aksesoris khas daerahnya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pria yang datang ke ibu kota untuk mencari penghidupan itu dibegal oleh empat orang tak dikenal pada Minggu, 26 Oktober 2025. Selain kehilangan uang tunai sebesar Rp 3 juta, sepuluh botol madu yang ia bawa untuk dijual turut raib dibawa kabur pelaku.
Peristiwa bermula ketika Repan tengah berjualan secara berpindah di kawasan jalanan Cempaka Putih. Empat pelaku yang mengendarai dua sepeda motor diduga telah mengincar korban sejak awal. Mereka kemudian menghadang, lalu mengancam Repan dengan senjata tajam. Meski mencoba melawan, korban justru mendapat luka di bagian tangan kiri akibat sabetan senjata pelaku.
Usai kejadian, korban segera melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Cempaka Putih. Aparat kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan, termasuk memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di titik-titik sekitar lokasi untuk mengidentifikasi pelaku.
Kepolisian menyatakan bahwa upaya pengejaran terhadap pelaku terus dilakukan. Masyarakat khususnya pedagang dan warga yang beraktivitas di malam hari atau di lokasi sepi diimbau untuk lebih waspada, terlebih jika membawa uang tunai atau barang berharga dalam jumlah besar.
“Kami serius menangani kasus ini. Saat ini tim telah mengumpulkan bukti-bukti di lokasi, termasuk memeriksa rekaman CCTV dan meminta keterangan dari saksi,” ujar seorang pejabat dari Polsek Cempaka Putih.
Peristiwa ini cepat menyita perhatian publik, terutama setelah komentar dari pegiat media sosial DJ Donny viral di kalangan warganet. Dalam unggahannya di Instagram, ia menyinggung aspek sosial yang lebih luas dari kasus ini. “Inilah akibat terlalu banyak pengangguran di Indonesia,” tulisnya. Pernyataan tersebut menuai ragam tanggapan, termasuk diskusi mengenai meningkatnya angka kriminalitas di kawasan urban.
Kasus yang menimpa Repan menambah panjang daftar kejahatan jalanan di wilayah DKI Jakarta. Dalam beberapa bulan terakhir, laporan mengenai pembegalan, penjambretan, dan pencurian dengan kekerasan semakin marak, memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya bagi pedagang kecil dan pekerja informal yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas harian di jalanan ibu kota.
Profesi pedagang keliling, terutama yang berasal dari wilayah luar Jakarta, kerap dibayangi risiko kejahatan karena minimnya perlindungan serta keterbatasan akses terhadap sarana pengamanan. Dalam konteks ini, banyak pihak mendesak agar aparat dan pemerintah daerah meningkatkan patroli dan pengawasan, khususnya di titik-titik rawan yang kerap dijadikan lokasi kejahatan oleh pelaku kriminalitas.
Sampai saat ini, Repan masih dalam masa pemulihan akibat luka yang dideritanya. Ia berharap para pelaku bisa segera ditangkap dan dagangannya dapat diganti, meski ia menyadari hal tersebut tidak mudah. Bahkan lebih dari itu, ia berharap agar ke depan, Jakarta bisa menjadi tempat yang lebih aman bagi warga luar daerah yang datang untuk mencari nafkah secara halal.
Kejadian ini menjadi pengingat penting akan pentingnya perlindungan terhadap masyarakat kecil dan rentan, serta perlunya tata kelola keamanan publik yang lebih kuat dan menyentuh hingga ke akar permasalahan sosial di kota-kota besar.















































