GALUH | Tanah longsor yang melanda Kecamatan Cinagara, Kabupaten Galuh, Provinsi Jawa Barat, pada Jumat malam menyebabkan sedikitnya 14 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya harus mengungsi. Longsor terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah perbukitan selama lebih dari enam jam tanpa henti. Material longsoran menimbun puluhan rumah warga di Desa Cibeber dan Desa Sukamulya, serta memutus akses utama jalan penghubung antar kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Galuh melaporkan bahwa bencana terjadi sekitar pukul 21.45 WIB, saat sebagian besar warga sudah berada di dalam rumah. Longsoran dipicu oleh kontur tanah yang labil dan sistem drainase perbukitan yang buruk, diperparah oleh penggundulan lahan dalam sepuluh tahun terakhir. Sebanyak 32 rumah tertimbun lumpur, batu, dan batang pohon yang terbawa longsor. Delapan jenazah berhasil ditemukan pada malam kejadian, sisanya ditemukan dalam pencarian keesokan hari oleh tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, serta relawan setempat.
Hingga Sabtu malam, tim penyelamat masih terus melakukan pencarian korban lain yang diduga tertimbun, menggunakan alat berat dan pencari suhu tubuh. Tantangan utama adalah cuaca yang belum sepenuhnya membaik serta kondisi tanah yang masih rawan bergerak. Proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk menghindari longsor susulan yang dapat membahayakan tim SAR.
Sebanyak 187 warga mengungsi ke bangunan SD Negeri Cibeber 2 dan Balai Desa Sukamulya yang dijadikan posko sementara. Kondisi pengungsian masih terbatas, dengan suplai logistik yang terbatas dan fasilitas sanitasi minim. Pemerintah daerah mulai mendistribusikan bantuan makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan darurat. Layanan kesehatan keliling juga disiapkan Dinas Kesehatan setempat untuk mengantisipasi potensi penyakit akibat lingkungan pengungsian yang padat.
Pemerintah Kabupaten Galuh menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan sambil terus memantau perkembangan situasi. Rencana relokasi korban bencana akan dibahas dalam waktu dekat dengan melibatkan berbagai pihak, mengingat sebagian besar rumah warga berada di zona rawan bencana sesuai dengan peta kawasan rawan tanah longsor dari Badan Geologi yang dirilis tahun lalu. Kendati demikian, belum seluruh warga bersedia direlokasi karena alasan mata pencaharian dan keterikatan sosial.
Beberapa warga yang selamat mengaku trauma dan masih mengalami tekanan psikologis. Tim psikososial dari Kementerian Sosial dijadwalkan untuk datang pada awal pekan depan guna mendampingi para penyintas, terutama anak-anak dan lansia. Banyak anak kehilangan sekolah dan buku pelajaran mereka karena rumah dan bangunan sekolah yang rusak berat akibat longsor. Pemerintah daerah akan membuka sekolah darurat di dekat pengungsian untuk memastikan hak belajar anak tetap terpenuhi.
Pada Sabtu siang, Gubernur Jawa Barat meninjau lokasi terdampak menggunakan helikopter, didampingi jajaran Forkopimda. Dalam keterangan singkatnya kepada wartawan, ia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan menginstruksikan percepatan pemulihan area terdampak, termasuk pembenahan infrastruktur yang rusak serta pembangunan sistem mitigasi bencana di kawasan perbukitan.
Bencana longsor di Cinagara menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan lingkungan berbasis risiko dan perlunya sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah dalam penataan kawasan rawan bencana. Para ahli geologi yang turut meninjau lokasi menilai bahwa peristiwa ini bukan sepenuhnya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga tekanan ekologis akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali selama bertahun-tahun.
Hingga berita ini ditulis, pencarian masih terus berlangsung dengan harapan untuk menemukan korban selamat, meskipun harapan itu semakin menipis seiring waktu. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera mengungsi jika terdapat tanda-tanda pergerakan tanah susulan. (*)















































